Hujan seharian tauh

 

Hujan seharian membeku badan

Menguras habis kesedihan

Terus merintih gelap awan

Tak lelah terus basah

Gelisah meluber tumpah

Becekkan bumi indah

Tinggalkan refornis wajah

Lihatlah dengan mata kalian

Mampukah sebentar renungkan

Siapa yang membuat angin dan awan

Siapa yang padamkan surya berkobaran

Bukan kamu atau aku

Bukan bulan atau batu batu

Hujan datang atas perintah

Hujan turun atas perintah

 

Bersimpuh tauh

 

Bersimpuh pada pencarian Tuhan

Mendengar seluruh sabda

Membuka seluruh kata

Menyusun lagi semua bening hasrat

Ingin mengetahui batas batas hakikat

Tentang agama agama langit

Tiga agama satu Tuhan

Satu Tuhan benama sama

Alloh..Alloh..Alloh

Dan baru sekarang terpikir

Bumi ini bukan angin yang mengukir

Mustahil air memberi tabir

Hasratku menjadi lemah

Tulangku hanyalah dari tanah

Oh Tuhan sekarang aku pasrah…

 

Kamu bayang bayang satu pas

 

Kamu langit langit pecah

Hati yang berubah ubah

Katamu ikuti cinta

Tetapi nyanyianmu luka

Kebenaran kehidupan terletak pada kematian

Percintaan tak jauhi keabadian

Sesuci detakan pertama

Sekotor lembaran nyawa

Bukan pacuan nafsu

Dengan rayuan sambil berlalu

Aku mendoakanmu

Menjadi bayang bayang Satu

Untuk langit yang cerah

Kepada hati yang pasrah

 

Hati pertanda tauhnda

 

Kalau hati sembah pertanda

Memasukinya angan angan sempurna

Menelusuri lembah hijau dingin

Mengecap embun embun tersisa

Wahai jiwa…wahai jiwa

Maknakan sembah sujudnya

Atau masih terlalu cepat

Untuk janji …untuk hangat…

Seluruh mahluk baru memulai

Sejuta tasbih dan puja puji

Jangan hati sembah angkuhkan

Jiwa dan hati padukan

Basuh wajah dingin

Tunjuki tasbih dan puja puji

Masih terlalu lambat

Untuk tempati hampa

Wahai jiwa

Wahai jiwa

Satukan sembah sujudnya

 

Padamu tauhnda

 

Padamu lembut dan terang

Tak tentu menyahut dengan bayang

Untuk kapas kapas

Yang kukumpulkan

Untuk nafas bebas

di ruang langit awan

wahai cahaya yang bercanda

jangan merayu tinggalkan nyata

wahai sinar yang tertawa

untukmu segala yang kulupa

benci aku wahai setan

ini yang kuharapkam

kutuklah aku wahai teman

ini janji kuajukan

dan nanti di pembalasan

dan kini di penghitungan

 

Jiwa artikan tauhnda

 

Jiwa jiwa muda

Belum mengerti jalan dan cara

Tapi memaksa duka

Untuk menafsir cinta

Biar embun menambatkan dingin

Biar luka luluhkan ingin

Jiwa jiwa dewasa

Mengaku mengerti jalan dan cara

Hanya menebar suka

Tanpa bersanding lembut derita

Biar surya menghitungnya

Biar sesat tampakkkan nyata

Jiwa jiwa tua

Dalam renta gelisah lara

Menyesali jalan dan cara

Tak berhenti mengejanya

Biar tanah memandangnya

Rindu tumpahkan gelapnya

 

Penikmat malam….tauh

 

Sebelum bintang muncul,dingin lebih dulu berkumpul

memanjatkan puja puji…hanya menanti…..

Para pencinta malam

Para penikmat kabut

Para pengecap embun

Selama mereka ada

Tuhan takkan hancurkan bumiNya

Bagaimana bisa jika mentari sudah terbiasa

Mendengarkan tasbih dari mulut mereka

Bumi pun ikut memanjatkan puja puji

Engkau Yang Maha Tinggi

Engkau Yang Maha Tinggi

 

Critamu…tauh

Matamu jernih meraba hening

Merayapi semua yang fana

Mengartikan semua benda

Lalu mencoba melukisnya

Dan kaupun bercerita tentang dunia

Tapi tak mampu jelaskan surga

Dan aku harus terus mendengarnya

Lalu kau berganti cerita

Tentang keutamaan cinta dan kasih sayang

Tapi kau tak mengerti jiwa pasrah yang tenang

Kemudian…yang paling membingungkan

Kau bercerita tentang Tuhan Yang Maha Menciptakan

Tapi kau tak sudi disebut pelayan…

Akhirnya akupun beranjak pergi

Saat kau katakan

Tuhan mempunyai anak laki laki

 

Tak berguna tauh

 

Sekali lagi manusia mengikuti prasangkanya

Berbuat sekehendak hatinya

Seolah mengerti segalanya

Seolah menguasai jiwa nyawa

Dan aku mendengar kabar

Bahwa gunung tertawa kasar

Mengejek kita membodohkan kita

Tentang akal yang sia sia

Mungkin bisa menginjak injak bulan

Tapi tak mampu temukan Tuhan

Akal mereka tumpul

Oleh kesombongan yang berkumpul

Mungkin bisa retakkan bumi

Tapi katakan Tuhan beranak lelaki

Kau pikir Tuhan seperti kalian

Memiliki pasangan dan keturunan

Sekarang gunung tertawa lebih keras

Juga bukit bahkan serpihan kertas

 

Tentukan barisan tauhnda

 

Saudara kita sudah banyak yang tewas

Ada yang syahid ada yang mati cemas

Apa kalian tetap diam

Bersanding angan tersulam

Sebentar lagi kita menyusul

Roh roh syahid  berkumpul

Sesaat lagi kita bertempur

Jangan berharap menyusun umur

Mungkin esok saat terbangun

Sirene perang terdengar mengalun

Apakah kalian sudah siap

Tentukan hati kemana menetap

Ikuti barisan senjata cangggih

Atau barisan takbir yang gigih

Bersama pasukan dajjal

Atau tetap Tuhan yang Tunggal

 

 

 

Advertisement