Basuhlah aku ludah
Diri memang orang susah
Hinalah terus mulut
Diri ini takkan tersulut
Letih tegar karang
Tahan dengar terbuang
Sadar keadaan
Terus juang bertahan
Patut debu tercampakkan
Tak berarti disisihkan
Waktu ledak dada
Teriakkan Allah MAha Kuasa
Jauh tahta harta
Dekat sedih derita
Ketetapan tak disangkal
Sinar putih lindungi akal
Muka tetap tertawa
karena jiwa temukan makna
Janji batu karang
Satu diri satu bayang
My 2 muka
Kulihat burung pusing
Hinggapi seribu ranting
Kulihat muka topeng
Berpura pura tameng
Menipu Sang Penipu
Ikuti alur laju
Di mulut tertawa
Mudah ikut saja
Bernyanyi sebar bunyi
Buat bingung sepi
Diam dengan sedih
Ramai terbang membuih
penyair murahan
Bikin persembahan
Jadi tawa penuh bercak
Hati senang tergelegak
Tapi syair untuk Tuhan
Itu yg diperbolehkan…
My 3 dua sisi
Tersusun jahat dan baik
Dua sisi saling menarik
Heran jelek terselubung indah
Akupun meliht sifat terpecah
Kencang detak panaskan nafas
Sekali sabar pelan terhempas
Keras berlawanan dua arus
Akupun menyaksikan tunggal pikir terhapus
Muka bayangan jiwa
Lemah terseok menuju surga
Cepat lancar kadang terhenti
Akupun berharap satu langkah pasti
Berani jiwa tersikut akal penakut
Goncangan maya terpa tak luput
Aneh..getar getar rasuki dada
Ya Rabb tunjukilah jalan yg nyata
My 4 tolong
Mengintip hari esok
Dapati arus jangan berkelok
Bertahan jalani walau takut
Tegarkan rasa hati kecut
Ya Rahman, Ya Rahman .tolong tuntun
Aku terlelap, aku melamun
Sisipkan sedikit sisa otak
Tapi pahit tidak terelak
Ya Rahman Ya Rahman. tolong usir
Kenapa jantung terus berdesir
Tak sekali diriku tegar
Yang terjadi tindak tak sadar
Ya rahman Ya Rahman.tolong ungkap
Kapan raga tenang menetap
Tidurkan wangi malam
Sandarkan mata lemah menyelam
Ya Rahman Ya rahamn tak berhentu kusebut
Saat apa maut menjemput
Apabila diri bersih menghadap
Nyata diam tersentak bersiap
My 5 sisa darah
Lembut rambut kusut mengeluh
Terik terasa mentari berpeluh
Bising siang merebak menyusup
Tetap bingung apa teraup
Tolong bisikkan satu sikap
Hingga jalang elak menetap
Sebentar darah aliri hidung
Pada apa aku berlindung
Senyap kucari berbulan-bulan
Hanya saja banyak bertebaran
Sebentar darah aliri mulut
Sangsikan kepala sudah menyusut
Ucap ini tidak hambar
Walau sungguh sering terlontar
Tapi darah aliri telinga
Tak lagi mengaum singa
Pada keras aku berlepas
Mugkin bisa lanjut bernafas
Karena darah sudah habis
Kini sisa roh berlapis
My
Inilah aku nafas dan tulang yang satu
Mencoba membujuk bumi dan batu
Mendengarkan embun dan dingin bercanda
Sambil berusaha jalani perintah Yang Kuasa
Inilah aku yang disebut jadilah maka jadilah
Inilah aku jalani lembah gelap
Hanya sedetik setelah cahaya terlihat
Syairku syair rakyat bukan syair pengkhianat
Syairku syair buruh yang puas meminum peluh
Puisiku hanya untuk Tuhan
Bukan puisi kesombongan